ID EN
Blog Home  ›  Cara Hitung HPP dan Margin Produk yang Benar Biar Untung Mak...
Manajemen Keuangan

Cara Hitung HPP dan Margin Produk yang Benar Biar Untung Maksimal

Cara Hitung HPP dan Margin Produk yang Benar Biar Untung Maksimal

Pernah nggak kamu ngerasa jualan ramai, omzet kelihatan besar, tapi pas dicek lagi keuntungannya kok tipis sekali? Salah satu penyebab paling umum dari masalah ini adalah harga jual yang ditentukan tanpa menghitung HPP (Harga Pokok Produksi atau Harga Pokok Penjualan) secara benar.

HPP itu fondasi dari semua keputusan harga. Kalau hitungannya salah dari awal, sekuat apapun usaha jualan, marginnya tetap akan tipis atau bahkan minus tanpa disadari.

Apa itu HPP

Secara sederhana, HPP adalah total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu produk yang kamu jual. Bukan cuma harga bahan baku saja, tapi semua biaya yang terlibat dalam proses sampai produk itu siap dijual.

Untuk usaha yang menjual barang jadi (reseller atau dropship), HPP biasanya cukup sederhana, yaitu harga beli produk ditambah ongkos kirim atau biaya kemasan. Tapi untuk usaha yang memproduksi sendiri, seperti makanan, fashion, atau kerajinan, komponennya lebih banyak dan sering terlewat dihitung.

Komponen yang sering terlewat saat menghitung HPP

Berikut beberapa komponen yang paling sering tidak dimasukkan ke dalam hitungan, padahal seharusnya wajib dihitung:

  • Biaya tenaga kerja langsung, misalnya upah karyawan yang langsung memproduksi barang
  • Biaya kemasan, termasuk label, plastik, atau dus
  • Biaya penyusutan alat, seperti mesin atau peralatan produksi yang lama lama perlu diganti
  • Biaya overhead produksi, seperti listrik dan gas yang dipakai khusus untuk produksi
  • Biaya bahan pendukung, bahan kecil yang sering dianggap "remeh" tapi jumlahnya signifikan kalau diakumulasi

Kebanyakan pemilik usaha hanya menghitung harga bahan baku utama saja. Padahal kalau lima komponen di atas diakumulasi, bisa jadi menyumbang 20 sampai 30 persen dari total biaya produksi sebenarnya.

Cara menghitung HPP

Rumus dasarnya seperti ini:

HPP = (Biaya bahan baku + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead produksi) dibagi jumlah unit yang diproduksi

Sebagai contoh, kamu memproduksi 100 unit kue kering dengan rincian biaya sebagai berikut:

  1. Bahan baku: Rp1.500.000
  2. Tenaga kerja: Rp500.000
  3. Kemasan: Rp200.000
  4. Listrik dan gas: Rp100.000

Total biaya produksi adalah Rp2.300.000. Karena yang diproduksi 100 unit, maka HPP per unitnya adalah Rp23.000.

Artinya, kalau kamu jual di bawah Rp23.000 per unit, kamu sudah pasti rugi sebelum menghitung keuntungan sama sekali.

Menentukan margin yang sehat

Setelah tahu HPP, langkah berikutnya adalah menentukan margin keuntungan yang ingin diambil. Margin ini biasanya dihitung dalam bentuk persentase dari harga jual, bukan dari HPP, supaya lebih mudah dibandingkan antar produk.

Rumusnya:

Harga jual = HPP dibagi (1 dikurangi persentase margin yang diinginkan)

Lanjut dari contoh di atas, kalau HPP per unit adalah Rp23.000 dan kamu ingin margin 40 persen, maka:

Harga jual = Rp23.000 dibagi (1 dikurangi 0,4) = Rp23.000 dibagi 0,6 = Rp38.333, bisa dibulatkan jadi Rp38.500 atau Rp39.000.

Banyak yang salah kaprah dengan cara menghitung margin langsung dari HPP (misalnya HPP ditambah 40 persen dari HPP), padahal cara ini menghasilkan margin riil yang lebih kecil dari yang diniatkan. Perbedaan rumus ini kelihatan kecil, tapi efeknya signifikan kalau dikalikan dengan ribuan transaksi dalam setahun.

Kesalahan umum dalam menentukan harga jual

Selain salah rumus margin, ada beberapa kesalahan lain yang sering terjadi:

  • Menentukan harga hanya berdasarkan harga kompetitor, tanpa mengecek dulu apakah HPP sendiri sudah tertutup
  • Tidak menghitung ulang HPP saat harga bahan baku naik, sehingga margin perlahan tergerus tanpa disadari
  • Memberi diskon besar tanpa menghitung dampaknya terhadap margin riil
  • Menganggap semua produk harus punya margin yang sama, padahal tiap produk bisa punya struktur biaya yang berbeda

Kenapa ini penting dipantau terus, bukan dihitung sekali saja

Harga bahan baku, ongkos kirim, dan biaya operasional itu sifatnya dinamis, bisa naik kapan saja. Kalau HPP cuma dihitung sekali di awal lalu tidak pernah diperbarui, margin yang kamu kira masih sehat sebenarnya bisa sudah jauh menyusut dari rencana awal.

Idealnya, HPP dicek ulang setiap kali ada perubahan biaya bahan baku, atau minimal dievaluasi secara rutin setiap beberapa bulan. Masalahnya, menghitung HPP secara manual setiap kali ada perubahan harga itu memakan waktu, apalagi kalau produknya banyak dan komponen biayanya kompleks.

Di sinilah pencatatan keuangan yang rapi jadi penting. Dengan Tigadigit, kamu bisa memantau laporan laba rugi per produk secara otomatis, sehingga begitu ada perubahan biaya, kamu langsung bisa lihat dampaknya ke margin tanpa harus menghitung ulang manual dari awal.

Kesimpulan

Menghitung HPP dengan benar adalah langkah paling mendasar sebelum menentukan harga jual. Tanpa hitungan yang akurat, kamu bisa saja merasa untung padahal sebenarnya margin yang didapat jauh lebih tipis dari yang dibayangkan, atau lebih parah, justru menanggung rugi tanpa sadar.

Luangkan waktu untuk menghitung ulang HPP secara berkala, dan pastikan semua komponen biaya, sekecil apapun, benar benar masuk dalam hitungan. Kalau kamu ingin proses ini lebih praktis dan otomatis, kamu bisa coba Tigadigit secara gratis untuk mulai memantau HPP dan margin produkmu dengan lebih akurat.

 

Pusing Dengan Keuangan Bisnis?

Hubungi kami untuk mengatasi semua pertanyaan kamu, kami akan memberikan pencerahan untuk menganalisis bisnis agar lebih baik

Whatsapp Kami Sekarang